tanda-tanda dajjal di indonesia ..
dajjal adalh pendusta yg akan muncul di akhir
zaman ..
manusia harus berhati pilih jalanya di
masa depan .. salah menambil keputusan qta terjerumus dalam dusta ..
Sifat-sifat
Dajjal
(ditulis oleh: Al-Ustadz
Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak )
Keluarnya Dajjal merupakan satu
perkara yang pasti. Dajjal akan berusaha menyesatkan manusia dari jalan Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga orang yang beriman semestinya mengetahui sifat
serta fitnah-fitnah Dajjal agar terhindar dari kesesatannya.
Al-Imam Al-Qurthubi
rahimahullahu menerangkan: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyifati
Dajjal dengan penjelasan yang gamblang bagi orang yang punya hati. Sifat-sifat
tersebut semuanya jelek, yang nampak jelas bagi orang yang mempunyai indera
yang sehat. Namun orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan akan celaka
tetap mengikuti Dajjal dalam pengakuannya yang dusta dan dungu, serta diharamkan
untuk mengikuti al-haq….”
Apakah Dajjal itu Manusia?
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu
berkata: “Ya. Dajjal adalah manusia dari bani Adam. Sebagian para ulama
menyatakan Dajjal adalah setan. Sebagian lagi menyatakan bapaknya manusia,
ibunya dari bangsa jin. Tapi semua pendapat ini tidaklah benar. Karena dia
butuh makan, minum, dan lainnya. Oleh karena itu, Nabi ‘Isa ‘alaihissalam
membunuhnya dengan cara membunuh manusia biasa.” (Asy-Syarhul Mumti’ 3/275)
Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata:
“Hadits-hadits ini adalah hujjah bagi Ahlus Sunnah akan benarnya keberadaan
Dajjal, bahwa Dajjal adalah satu sosok tubuh yang merupakan ujian dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan dia
kemampuan melakukan beberapa hal, seperti menghidupkan orang mati yang ia
bunuh, memunculkan kesuburan, membawa sungai, surga dan neraka, perbendaharaan
bumi mengikuti dirinya, memerintahkan langit untuk hujan maka turunlah hujan,
memerintahkan bumi untuk menumbuhkan maka tumbuhlah tanaman-tanaman. Itu
semua terjadi dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah itu, ia tak
mampu melakukannya, tidak mampu membunuh seorang laki-laki (yang sebelumnya
dibunuh kemudian dihidupkan kembali olehnya) ataupun lainnya….”
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata:
“(Yang benar) Dajjal adalah manusia. Fitnahnya lebih besar dari (sekedar)
fitnah Eropa sebagaimana banyak diterangkan dalam banyak hadits.”
(Ash-Shahihah, 3/191)
Dakwah Dajjal
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin
rahimahullahu mengatakan: “Telah disebutkan, awal mula ia keluar menyeru
kepada Islam, mengaku sebagai muslim. Kemudian mengaku sebagai nabi, setelah
itu mengaku sebagai ilah.”(Asy-Syarhul Mumti’ 3/268, lihat Qishshatu Dajjal wa
Nuzul ‘Isa karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)
Sifat-sifat dan Bentuk Fisiknya
1. Seorang pemuda yang berambut
keriting dan kusut masai.
Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
إِنَّهُ شَابٌّ قَطَطٌ عَيْنُهُ طَافِئَةٌ كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ
“Dia adalah seorang pemuda yang sangat keriting
rambutnya, hilang cahaya matanya, seakan-akan aku menyerupakannya dengan Abdul
‘Uzza bin Qathan.” (HR. Muslim: 2937)
Dalam riwayat lain: “Rambutnya kusut.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata:
إِنَّ مِنْ بَعْدِكُمُ الْكَذَّابَ الْمُضِلَّ وَإِنَّ رَأْسَهُ مِنْ بَعْدِهِ حُبُكٌ حُبُكٌ حُبُكٌ -ثَلاَثَ مَرَّاتٍ- وَإِنَّهُ سَيَقُوْلُ: أَنَا رَبُّكُمْ؛ فَمَنْ قَالَ: لَسْتَ رَبَّنَا لَكِنَّ رَبَّنَا اللهُ عَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْهِ أَنَبْنَا نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّكَ؛ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَلَيْهِ سُلْطَانٌ
“Nanti akan ada pendusta yang menyesatkan,
rambut di belakangnya hubukun (keriting seperti terjalin/dipintal) –beliau
ucapkan tiga kali–. Dia akan berkata: ‘Aku adalah Rabb kalian’. Barangsiapa yang
berkata: ‘Engkau bukan Rabb kami. Rabb kami adalah Allah, kepada-Nyalah kami
bertawakal dan kepada-Nyalah kami kembali. Kami berlindung kepada Allah dari
kejahatanmu’, niscaya Dajjal tak mampu mengalahkannya.” (Ash-Shahihah no. 2808)
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata:
“Hadits ini merupakan dalil yang tegas bahwa Dajjal akbar (terbesar) adalah
manusia yang punya kepala dan rambut. Bukan sesuatu yang maknawi atau kiasan
dari kerusakan, sebagaimana ucapan orang-orang yang lemah imannya….” (Silsilah
Ahadits Shahihah, 6/2, pada penjelasan hadits no. 2808)
Berita
tentang munculnya Dajjal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang wajib diimani dengan sifat-sifat yang telah disebutkan
dengan terang dan jelas yang tidak butuh penakwilan apapun, di antaranya:
1. Dia dari
Bani Adam
2. Laki-laki
3. Pemuda
4. Pendek
5.
Berkulit merah
6. Keriting
rambutnya
7. Dahinya
lebar
8. Lehernya
lebar
9. Matanya
buta sebelah kanan
10.Tertulis
di antara dua matanya ك ف ر (yang bermakna kafir)
11.Tidak
berketurunan
12.Pada
matanya sebelah kiri terdapat daging tumbuh.
Sifat-sifat
di atas disebutkan di dalam banyak hadits baik dalam Ash-Shahihain (Al-Bukhari
dan Muslim) atau selain keduanya.
2. Matanya
Dia adalah seorang yang buta sebelah, sedangkan
Rabb kalian tidaklah demikian. Masalah ini diriwayatkan dalam hadits yang
mutawatir, diriwayatkan oleh lebih dari sepuluh orang sahabat. Di antaranya:
- Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:
قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّاسِ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ ذَكَرَ الدَّجَّالَ فَقَالَ: إِنِّي أُنْذِرُكُمُوْهُ وَمَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أَنْذَرَهُ قَوْمَهُ، لَقَدْ أَنْذَرَهُ نُوْحٌ قَوْمَهُ وَلَكِنْ سَأَقُوْلُ لَكُمْ فِيْهِ قَوْلاً لَمْ يَقُلْهُ نَبِيٌّ لِقَوْمِهِ، تَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ أَعْوَرُ وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
Rasulullah berdiri di hadapan manusia,
menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sanjungan yang merupakan hak-Nya,
kemudian menyebut Dajjal dan berkata: “Aku memperingatkan kalian darinya,
tidaklah ada seorang nabi kecuali pasti akan memperingatkan kaumnya tentang
Dajjal. Nuh ‘alaihissalam telah memperingatkan kaumnya. Akan tetapi aku akan
sampaikan kepada kalian satu ucapan yang belum disampaikan para nabi kepada
kaumnya. Ketahuilah dia itu buta sebelah, adapun Allah Subhanahu wa
Ta’ala tidaklah demikian.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim no. 2930)
- Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
إِنَّ الْمَسِيْحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ عَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ
“Sesungguhnya Dajjal buta matanya yang kanan,
matanya seperti anggur yang menonjol.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2932)
- Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ حَدِيْثًا عَنْ الدَّجَّالِ مَا حَدَّثَ بِهِ نَبِيٌّ قَوْمَهُ؛ إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّهُ يَجِيْءُ مَعَهُ بِمِثَالِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَالَّتِي يَقُوْلُ إِنَّهَا الْجَنَّةُ هِيَ النَّارُ وَإِنِّي أُنْذِرُكُمْ كَمَا أَنْذَرَ بِهِ نُوْحٌ قَوْمَهُ
“Maukah aku sampaikan kepada kalian tentang
Dajjal yang telah disampaikan oleh seorang nabi kepada kaumnya? Dia buta
sebelah, membawa sesuatu seperti surga dan neraka. Yang dia katakan surga pada
hakikatnya adalah neraka, aku peringatkan kepada kalian sebagaimana Nabi Nuh
‘alaihissalam memperingatkan kaumnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2936)
Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata:
هُوَ أَعْوَرُ هِجَانٌ كَأَنَّ رَأْسَهُ أَصَلَةٌ، أَشْبَهُ رِجَالِكُمْ بِهِ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ قَطَنٍ فَإِمَّا هَلَكَ الْهُلَّكُ فَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
“Dajjal matanya buta sebelah, kulitnya putih.”
(Dalam satu riwayat): “Kulitnya putih seperti keledai putih. Kepalanya kecil dan
banyak gerak, mirip dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan. Jika ada orang-orang yang
binasa (mengikuti fitnahnya), ketahuilah Rabb kalian tidaklah buta sebelah.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Hibban, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata:
Sanadnya shahih menurut syarat Muslim, Ash-Shahihah, no. 1193)
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata:
“Hadits ini menunjukkan Dajjal akbar adalah manusia yang mempunyai sifat
seperti manusia. Apalagi Rasulullah menyerupakannya dengan Abdul ‘Uzza bin
Qathan, seorang shahabat. Hadits ini satu dari sekian banyak dalil yang
membatilkan takwil sebagian orang yang menyatakan Dajjal bukanlah sosok fisik,
tapi rumuz (simbol) kemajuan Eropa berikut kemegahan serta fitnahnya. (Yang
haq) Dajjal adalah manusia, fitnahnya lebih besar dari fitnah Eropa sebagaimana
banyak diterangkan dalam banyak hadits.” (Ash-Shahihah, 3/191)
Tulisan di antara Kedua Matanya
Tertulis di antara kedua matanya ك ف ر yang bisa dibaca oleh mukmin yang bisa baca tulis ataupun
tidak. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata:
مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ وَقَدْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ اْلأَعْوَرَ الْكَذَّابَ أَلاَ إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَمَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ك ف ر
“Tidak ada seorang nabi pun kecuali
memperingatkan umatnya dari Dajjal. Dia buta, pendusta. Ketahuilah dia buta,
adapun Rabb kalian tidaklah demikian. Tertulis di antara dua mata Dajjal :ك ف ر -yakni: kafir.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2933)
Dari ‘Umar bin Tsabit Al-Anshari rahimahullah,
beliau mendapatkan berita dari sebagian shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bahwasanya pada suatu hari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata memperingatkan manusia dari Dajjal:
إِنَّهُ مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ يَقْرَؤُهُ مَنْ كَرِهَ عَمَلَهُ أَوْ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ
“Sesungguhnya tertulis di antara dua matanya ك ف ر, akan bisa membacanya orang yang membenci amalannya -atau akan
membacanya semua mukmin.” (HR. Muslim)
Dalam satu riwayat dari Hudzaifah radhiyallahu
‘anhu:
يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ
“Akan bisa membacanya semua mukmin yang bisa
menulis ataupun tidak.” (HR. Muslim, 2934/105)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Yang
benar dan ini adalah ucapan para ulama muhaqqiqin: Tulisan (yang ada di antara
kedua mata Dajjal, -pen.) adalah hakiki adanya sesuai dzahirnya. Allah
Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai tanda di antara sekian tanda kekufuran,
kedustaan, dan kebatilannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tampakkan kepada seluruh
mukmin yang bisa baca tulis ataupun tidak, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala
sembunyikan (tanda tersebut) dari orang yang diinginkan kesesatannya dan
terkena fitnahnya.” (Syarh Muslim, 9/294)
Pengikut Dajjal
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُوْدِ أَصْبَهَانَ سَبْعُوْنَ أَلْفًا عَلَيْهِمْ الطَّيَالِسَةُ
“Akan mengikuti Dajjal dari kaum Yahudi
Ashbahan (sebuah kota di Iran) 70.000 orang, (tanda) mereka memakai thayalisah
(sejenis kain yang dipakai di pundak).” (HR. Muslim no. 2944)
Pengikut Dajjal adalah orang-orang Yahudi dan
orang-orang yang jahat. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي، فَقَالَ لِي: مَا يُبْكِيْكِ؟ قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَكَرْتُ الدَّجَّالَ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ وَأَنَا حَيٌّ كَفَيْتُكُمُوْهُ، وَإِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ بَعْدِي فَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَإِنَّهُ يَخْرُجُ فِي يَهُوْدِيَّةِ أَصْبَهَانَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَدِيْنَةَ فَيَنْزِلَ نَاحِيَتَهَا وَلَهَا يَوْمَئِذٍ سَبْعَةُ أَبْوَابٍ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَكَانِ، فَيَخْرُجَ إِلَيْهِ شِرَارُ أَهْلِهَا
“Rasulullah masuk ke kamarku dalam keadaan aku
sedang menangis. Beliau berkata kepadaku: ‘Apa yang membuatmu menangis?’ Aku
menjawab: ‘Saya mengingat perkara Dajjal maka aku pun menangis.’ Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Jika dia keluar sedang aku masih berada
di antara kalian niscaya aku akan mencukupi (melindungi) kalian. Jika dia
keluar setelah aku mati maka ketahuilah Rabb kalian tidak buta sebelah. Dajjal
keluar bersama orang-orang Yahudi Ashbahan hingga datang ke Madinah dan
berhenti di salah satu sudut Madinah. Madinah ketika itu memiliki tujuh pintu,
setiap celahnya ada dua malaikat yang berjaga. Maka keluarlah orang-orang jahat
dari Madinah mendatangi Dajjal ….” (HR. Ahmad, Abdullah bin Ahmad, Ibnu Hibban.
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: Sanadnya shahih)
Dalam sebuah hadits disebutkan juga bahwa
Dajjal akan muncul di tengah-tengah pasukan Khawarij.
يَنْشَأُ نَشْءٌ يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، كُلَّمَا خَرَجَ قَرْنٌ قُطِعَ حَتَّى خَرَجَ فِي عِرَاضِهِمُ الدَّجَّالُ
“Akan muncul sekelompok pemuda yang (pandai)
membaca Al-Qur`an tapi tidak melewati tenggorokan mereka. Setiap kali keluar
sekelompok mereka, maka akan tertumpas sehingga muncul Dajjal di tengah-tengah
mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 174, lihat Ash-Shahihah no. 2455)
Macam-macam Fitnahnya
Fitnah yang dilakukan Dajjal banyak sekali, di
antaranya:
1. Bersamanya ada surganya dan
nerakanya.
Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى جُفَالُ الشَّعْرِ مَعَهُ جَنَّةٌ وَنَارٌ فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ
“Dajjal cacat matanya yang kiri1, keriting
rambutnya, bersamanya surga dan nerakanya. Nerakanya adalah surga dan surganya
adalah neraka.” (HR. Muslim, no. 2934)
2. Membunuh satu jiwa kemudian
menghidupkannya kembali.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata:
فَيَخْرُجُ إِلَيْهِ يَوْمَئِذٍ رَجُلٌ هُوَ خَيْرُ النَّاسِ أَوْ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ فَيَقُوْلُ لَهُ: أَشْهَدُ أَنَّكَ الدَّجَّالُ الَّذِي حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيْثَهُ. فَيَقُوْلُ الدَّجَّالُ: أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَتَلْتُ هَذَا ثُمَّ أَحْيَيْتُهُ أَتَشُكُّوْنَ فِي اْلأَمْرِ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: لاَ. قَالَ: فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يُحْيِيْهِ…
“Keluarlah pada hari itu seorang yang terbaik
atau di antara orang terbaik. Dia berkata: ‘Aku bersaksi engkau adalah Dajjal
yang telah disampaikan kepada kami oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam.’ Dajjal berkata (kepada pengikutnya): ‘Apa pendapat kalian jika aku
bunuh dia dan aku hidupkan kembali apakah kalian masih ragu kepadaku?’ Mereka berkata:
‘Tidak.’ Maka Dajjal membunuhnya dan menghidupkannya kembali….” (HR. Muslim no.
2938)
3. Menggergaji seseorang
kemudian membangkitkannya kembali. (HR. Muslim, 2938/113)
4. Memerintahkan langit untuk
menurunkan hujan lalu turunlah hujan.
Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
فَيَأْتِي عَلَى الْقَوْمِ فَيَدْعُوْهُمْ فَيُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَيَسْتَجِيْبُوْنَ لَهُ فَيَأْمُرُ السَّمَاءَ فَتُمْطِرُ وَاْلأَرْضَ فَتُنْبِتُ
“…Dia datang kepada satu kaum mendakwahi
mereka. Merekapun beriman kepadanya, menerima dakwahnya. Maka Dajjal
memerintahkan langit untuk hujan dan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan
tanaman, maka turunlah hujan dan tumbuhlah tanaman….” (HR. Muslim no. 2937)
Adapun kaum yang tidak beriman dan tidak
menerima dakwah Dajjal, tidak ada sedikit harta pun tersisa pada mereka.
5. Akan diikuti perbendaharaan
harta.
Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu
‘anhu disebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
وَيَمُرُّ بِالْخَرِبَةِ فَيَقُوْلُ لَهَا: أَخْرِجِي كُنُوْزَكِ. فَتَتْبَعُهُ كُنُوْزُهَا كَيَعَاسِيْبِ النَّحْلِ
“…Dia mendatangi reruntuhan dan berkata:
‘Keluarkanlah perbendaharaanmu.’ Maka keluarlah perbendaharaannya mengikuti
Dajjal seperti sekelompok lebah.” (HR. Muslim no. 2937)
6. Bersamanya air, sungai, dan
gunung roti, api, dan air.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
وَإِنَّهُ مَعَهُ جَنَّةٌ وَنَارٌ وَنَهْرٌ وَمَاءٌ وَجَبَلُ خُبْزٍ وَإِنَّ جَنَّتَهُ نَارٌ وَنَارَهُ جَنَّةٌ
“…Sesungguhnya bersama dia ada surga dan
nerakanya, sungai dan air, serta gunung roti. Sesungguhnya surganya Dajjal
adalah neraka dan nerakanya Dajjal adalah surga.” (HR. Ahmad. Asy-Syaikh
Al-Albani rahimahullahu berkata: sanadnya shahih. Lihat Qishshatu Masihid
Dajjal)
Dari ‘Uqbah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, dia
berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang
Dajjal:
إِنَّ الدَّجَّالَ يَخْرُجُ وَإِنَّ مَعَهُ مَاءً وَنَارًا فَأَمَّا الَّذِي يَرَاهُ النَّاسُ مَاءً فَنَارٌ تُحْرِقُ وَأَمَّا الَّذِي يَرَاهُ النَّاسُ نَارًا فَمَاءٌ بَارِدٌ عَذْبٌ، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلْيَقَعْ فِي الَّذِي يَرَاهُ نَارًا فَإِنَّهُ مَاءٌ عَذْبٌ طَيِّبٌ
“Sungguh Dajjal akan keluar dan bersamanya ada
air dan api. Apa yang dilihat manusia air sebenarnya adalah api yang membakar.
Apa yang dilihat manusia api sesungguhnya adalah air minum dingin yang segar.
Barangsiapa di antara kalian yang mendapatinya hendaknya memilih yang
dilihatnya api, karena itu adalah air segar yang baik.” (HR. Muslim no. 2935)
Jika seorang mukmin telah mengetahui dan
beriman akan keluarnya Dajjal dengan membawa fitnah yang demikian dahsyat,
hendaknya ia mengamalkan beberapa sebab untuk menjaga dirinya dari Dajjal dan
fitnahnya. Di antara amalan tersebut:
1. Minta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dari kejelekan fitnahnya, memperbanyak minta perlindungan darinya
terutama setelah tasyahud akhir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata:
إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُوْلُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ
“Jika salah seorang kalian selesai dari
tasyahud akhir mintalah perlindungan dari empat perkara: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepadamu dari adzab jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah waktu
hidup dan waktu mati, dan dari kejahatan fitnah Dajjal’.” (HR. Al-Bukhari dan
Muslim)
2. Menghafal sepuluh ayat
pertama dari surat Al-Kahfi.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata:
مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْكَهْف عُصِمَ مِنْ الدَّجَّالِ
“Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama
dari surat Al-Kahfi, akan terjaga dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim)
3. Menjauhinya, tidak mendatanginya kecuali
seorang yang yakin tak akan terkena mudarat. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ مِنْهُ فَإِنَّ الرَّجُلَ يَأْتِيْهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَلاَ يَزَالُ بِهِ لِمَا مَعَهُ مِنْ الشُّبَهِ حَتَّى يَتَّبِعَهُ
“Barangsiapa mendengar (keluarnya) Dajjal
hendaknya menjauh darinya. Demi Allah, sungguh ada seorang yang mendatanginya
merasa dirinya beriman tapi kemudian mengikuti Dajjal dikarenakan
syubhat-syubhat yang dilontarkan Dajjal.” (HR. Ahmad)
4. Tinggal di Makkah dan
Madinah
Karena keduanya adalah negeri yang aman tak
bisa dimasuki Dajjal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلاَّ سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إِلاَّ مَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةَ لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ إِلاَّ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ صَافِّيْنَ يَحْرُسُوْنَهَا
“Tidak ada satu negeri pun kecuali akan
dimasuki Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Dia tidak mendapati celah/ jalan
masuk kecuali padanya ada malaikat yang berbaris menjaganya.” (HR. Al-Bukhari
dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)
Dan termasuk yang terjaga dari Dajjal juga adalah
Masjidil Aqsha serta bukit Tursina (dalam riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban
sebagaimana dalam Qishshatu Masihid Dajjal)
Dari nash-nash yang kita dapatkan tentang
Dajjal, kita dapatkan kesimpulan:
1. Luasnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala
kepada hamba-hamba-Nya, karena Dia telah membekali mereka dengan senjata yang
bisa mematahkan hujjah dan fitnah Dajjal. Ini terwujud dengan penjelasan
sifat-sifat yang menunjukkan kedustaannya, kaum mukmin diberi kemampuan untuk
membaca apa yang tertulis di kening Dajjal yang menunjukkan kekufurannya. Juga
Allah Subhanahu wa Ta’ala bimbing kita untuk menghafal sepuluh ayat pertama
dalam surat Al-Kahfi sebagai tameng dari Dajjal.
2. Dajjal adalah sosok manusia yang telah
sangat jelas sifat-sifatnya sebagai manusia. Ini membantah ucapan orang sesat
dan ahlul bid’ah yang menyatakan Dajjal hanyalah sosok fiktif belaka atau
hanyalah simbol dari tersebarnya kerusakan.
3. Dajjal mempunyai sifat dan fitnah-fitnah
yang telah digambarkan dengan rinci: keluarnya di akhir jaman, muncul dari arah
Syam, tinggal selama 40 hari, diberi kemampuan mematikan dan menghidupkan,
membawa surga dan neraka, tertulis di antara dua matanya ك ف ر, dan sifat lainnya. Ini membantah ucapan yang menyatakan bahwa Dajjal
adalah Sri Sathya Sai Baba dari India, atau kiasan dari kemajuan serta fitnah
Eropa.
Wa akhiru da’wana anil hamdulillahi Rabbbil
‘alamin.
1 Dalam hal ini terdapat perbedaan riwayat,
sebagian menyatakan yang kiri dan sebagaian menyatakan yang kanan. Sebagian
ulama mengkompromikan riwayat-riwayat tersebut dengan mengatakan bahwa mata
yang kanan terhapus dan tidak bercahaya, sedangkan pada mata yang kiri terdapat
sepotong daging yang menonjol. (ed)
Dajjal Sudah Ada di Sebuah Pulau
Asy-Sya’bi rahimahullahu mengatakan kepada
Fathimah bintu Qais radhiyallahu ‘anha: “Beri aku sebuah hadits yang kamu
dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak kamu sandarkan
kepada seorang pun selain beliau.” Fathimah mengatakan: “Jika engkau memang
menghendakinya akan aku lakukan.” “Ya, berikan aku hadits itu,” jawab
Asy-Sya’bi.
Fathimah pun berkisah: “…Aku mendengar seruan
orang yang berseru, penyeru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyeru
‘Ash-shalatu Jami’ah’. Aku pun keluar menuju masjid lantas shalat bersama
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan aku berada pada shaf wanita yang
langsung berada di belakang shaf laki-laki. Tatkala Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam selesai dari shalatnya maka beliau duduk di mimbar dan
tertawa seraya mengatakan: ‘Hendaknya setiap orang tetap di tempat shalatnya.’
Kemudian kembali berkata: ‘Apakah kalian tahu mengapa aku kumpulkan kalian?’
Para sahabat menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam melanjutkan: ‘Sesungguhnya –demi Allah-, aku tidak kumpulkan
kalian untuk sesuatu yang menggembirakan atau menakutkan kalian. Namun aku
kumpulkan kalian karena Tamim Ad-Dari. Dahulu ia seorang Nasrani lalu datang
kemudian berbai’at dan masuk Islam serta mengabariku sebuah kisah, sesuai
dengan apa yang aku ceritakan kepada kalian tentang Al-Masih Ad-Dajjal.
Ia memberitakan bahwa ia naik kapal bersama 30
orang dari Kabilah Lakhm dan Judzam. Lalu mereka dipermainkan oleh ombak hingga
berada di tengah lautan selama satu bulan. Sampai mereka terdampar di sebuah
pulau di tengah lautan tersebut saat tenggelamnya matahari. Mereka pun duduk
(menaiki) perahu-perahu kecil. Setelah itu mereka memasuki pulau tersebut
hingga menjumpai binatang yang berambut sangat lebat dan kaku. Mereka tidak
tahu mana qubul dan mana dubur-nya, karena demikian lebat bulunya. Mereka pun
berkata: ‘Apakah kamu ini?’ Ia (binatang yang bisa berbicara itu) menjawab:
‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Mereka mengatakan: ‘Apa Al-Jassasah itu?’ Ia (justru
mengatakan): ‘Wahai kaum, pergilah kalian kepada laki-laki yang ada rumah
ibadah itu. Sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian.’ Tamim
mengatakan: ‘Ketika dia menyebutkan untuk kami orang laki-laki, kami khawatir
kalau binatang itu ternyata setan.’ Tamim mengatakan: ‘Maka kami pun bergerak
menuju kepadanya dengan cepat sehingga kami masuk ke tempat ibadah itu.
Ternyata di dalamnya ada orang yang paling besar yang pernah kami lihat
dan paling kuat ikatannya. Kedua tangannya terikat dengan lehernya, antara dua
lututnya dan dua mata kakinya terikat dengan besi. Kami katakan:
‘Celaka kamu, apa kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Kalian telah mampu mengetahui
tentang aku. Maka beritakan kepadaku siapa kalian ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami
ini orang-orang dari Arab. Kami menaiki kapal ternyata kami bertepatan
mendapati laut sedang bergelombang luar biasa, sehingga kami dipermainkan ombak
selama satu bulan lamanya, sampai kami terdampar di pulaumu ini. Kami pun
naik perahu kecil, lalu memasuki pulau ini dan bertemu dengan binatang yang
sangat lebat dan kaku rambutnya. Tidak diketahui mana qubul-nya dan mana
duburnya karena lebatnya rambut. Kamipun mengatakan: ‘Celaka kamu, apa
kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Kamipun bertanya lagi: ‘Apa
Al-Jassasah itu?’ Ia malah menjawab, pergilah ke rumah ibadah itu sesungguhnya
ia sangat merindukan berita kalian. Maka kami pun segera menujumu dan kami
takut dari binatang itu. Kami tidak merasa aman kalau ternyata ia adalah
setan.’
Lalu orang itu mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku
tentang pohon-pohon korma di Baisan.’
Kami mengatakan: ‘Tentang apanya engkau meminta
beritanya?’
‘Aku bertanya kepada kalian tentang pohon
kormanya, apakah masih berbuah?’ katanya.
Kami menjawab: ‘Ya.’
Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya hampir-hampir ia
tidak akan mengeluarkan buahnya. Kabarkan kepadaku tentang danau Thabariyyah.’
Kami jawab: ‘Tentang apa engkau meminta
beritanya?’
‘Apakah masih ada airnya?’ jawabnya.
Mereka menjawab: ‘Danau itu banyak airnya.’
Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya hampir-hampir
airnya akan hilang. Kabarkan kepadaku tentang mata air Zughar1.’
Mereka mengatakan: ‘Tentang apanya kamu minta
berita?’
‘Apakah di mata air itu masih ada airnya? Dan
apakah penduduknya masih bertani dengan airnya?’ jawabnya.
Kami katakan: ‘Ya, mata air itu deras airnya
dan penduduknya bertani dengannya.’ Ia mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku tentang
Nabi Ummiyyin, apa yang dia lakukan?’
Mereka menjawab: ‘Ia telah muncul dari Makkah
dan tinggal di Yatsrib (Madinah).’
Ia mengatakan: ‘Apakah orang-orang Arab
memeranginya?’
Kami menjawab: ‘Ya.’
Ia mengatakan lagi: ‘Apa yang dia lakukan
terhadap orang-orang Arab?’ Maka kami beritakan bahwa ia telah menang atas
orang-orang Arab di sekitarnya dan mereka taat kepadanya.
Ia mengatakan: ‘Itu sudah terjadi?’
Kami katakan: ‘Ya.’
Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya baik bagi mereka
untuk taat kepadanya. Dan aku akan beritakan kepada kalian tentang aku,
sesungguhnya aku adalah Al-Masih. Dan hampir-hampir aku diberi ijin untuk
keluar sehingga aku keluar lalu berjalan di bumi dan tidak ku tinggalkan satu
negeri pun kecuali aku akan turun padanya dalam waktu 40 malam kecuali Makkah
dan Thaibah, keduanya haram bagiku. Setiap kali aku akan masuk pada salah
satunya, malaikat menghadangku dengan pedang terhunus di tangannya,
menghalangiku darinya. Dan sesungguhnya pada setiap celahnya (dua kota itu) ada
para malaikat yang menjaganya.’
Fathimah mengatakan: ‘Maka Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan menusukkan tongkatnya di mimbar
sambil mengatakan: ‘Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah2, yakni
Al-Madinah. Apakah aku telah beritahukan kepada kalian tentang hal itu?’
Orang-orang menjawab: ‘Ya.’
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‘Sesungguhnya cerita Tamim menakjubkanku, di mana sesuai dengan apa yang
kuceritakan kepada kalian tentangnya (Dajjal), serta tentang Makkah dan
Madinah. Ketahuilah bahwa ia berada di lautan Syam atau lautan Yaman-
tidak, bahkan dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur. Tidak, dia dari arah
timur. Tidak, dia dari arah timur -dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya
ke arah timur-.’

Tidak ada komentar:
Posting Komentar